Jajak Pendapat
Bagaimana pendapat anda tentang http://sman1banjar.sch.id
Sangat bagus
Bagus
Biasa
Kurang
  Lihat
Agenda
03 August 2020
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5

Gerakan Literasi Bangsa

Tanggal : 07-03-2018 07:41, dibaca 402 kali.

Gerakan Literasi Bangsa

 

 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), kini sedang menyiapkan salah satu program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa" (GLB). Program GLB ini digagas atas dasar keprihatinan atas masih rendahnya budaya literasi (budaya membaca dan menulis) yang dimiliki bangsa ini. Data statistik UNESCO, misalnya, menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, terutama bagi kalangan dunia pendiikan. Atas dasar inilah sebagai salah seorang tenaga pendidik saya merasa terpanggil untuk turut urun-saran terkait dengan hal ini.

 

Urgensi GLB

Keprihatinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan tentu sangat beralasan manakala ia menyitir ihwal budaya literasi kita. Betapa tidak,  hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), misalnya menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia menempati posisi terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati posisi ke-64 dari 65 negara. Padahal, Vietnam bahkan mampu berada di posisi 20 besar. Dalam penelitian yang sama mengenai kebiasaan membaca para siswa sekolah, PISA menempatkan Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. Hal ini tentu merupakan kondisi buruk yang cukup memprihatinkan.

Rendahnya budaya literasi yang dimiliki bangsa ini tentu menjadi tantangan tersendiri yang perlu disikapi secara serius. Hal ini setidaknya terkait dua alasan penting yang satu sama lain saling terkait sehingga upaya-upaya serius perlu segera dilakukan untuk mengantisipasinya. Pertama, sejarah telah menyuguhkan bukti-bukti faktual bahwa budaya literasi terkait erat dengan kemajuan sebuah peradaban bangsa. Dengan kata lain, jika kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan unggul, maka budaya literasi menjadi salah satu faktor kuncinya. Kedua, budaya literasi yang dimilki sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kualitas SDM dan sekaligus menjadi cermin dari nilai daya saing yang dimiliki sebuah bangsa. Karena itu, kesadaran kita untuk terus berupaya meningkatkan budaya literasi melalui program GLB jangan dianggap sesuatu yang sepele. Gerakan ini harus mampu menumbuhkan kesadaran yang lebih besar, termasuk dan terutama sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya untuk meningkatkan marwah kita sebagai bangsa, sekaligus meningkatkan posisi tawar (bargaining position) kita dalam percaturan global.

 

Mempromosikan RBK

Memang perlu diakui bahwa secara kultural masyarakat kita belum memiliki budaya literasi yang tinggi. Tak heran jika budaya baca-tulis kita masih lemah dan rendah dibanding negara-negara yang sudah maju. Taufiq Ismail, tokoh sastrawan kenamaan kita pernah menyampaikan suatu komparasi mengenai budaya literasi yang kita miliki dibandingkan dengan budaya literasi beberapa negara maju. Menurut Taufik Ismail, di negara-negara maju, para siswa di sekolah didorong untuk membaca dan menamatkan buku-buku terutama karya sastra dengan jumlah tertentu. Misalnya, di Jerman siswa wajib menamatkan 22-32 judul buku (1966-1975), Jepang 15 judul buku (1969-1972), Malaysia 6 judul buku (1976-1980), Singapura 6 judul buku (1982-1983), Thailand 5 judul buku (1986-1991). Bagaimana dengan di Indonesia? Menurutnya, di Indonesia sejak tahun 1950-1997 terdapat nol buku atau tidak ada kewajiban bagi siswa untuk menamatkan buku sastra. Ironisnya lagi, kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.

Kondisi ini diperparah lagi dengan kian memudarnya fungsi dan peran perpustakaan. Meskipun di tiap sekolah tersedia perpustakaan, tapi minat siswa kita untuk memanfaatkan perpustakaan terhitung masih rendah. Penelitian mutakhir tentang pemanfaatan perpustakaan mengkonfirmasi hal ini dimana siswa masih jauh dari perpustakaan dan hanya memanfaatkan perpustakaan sekadar untuk mengerjakan tugas sekolah. Demikian halnya perpustakaan lainnya, seperti perpustakaan umum daerah yang secara formal tersedia hampir di seluruh daerah kabupaten/kota namun belum benar-benar fungsional secara signifikan.

 

Gagasan untuk mendirikan perpustakaan komunitas tentu relevan dengan kondisi saat ini. Bentuknya memang bisa beragam, seperti rumah baca komunitas, perpustakaan komunitas, atau ruang baca komunitas yang sudah mulai banyak digagas di banyak tempat. Saya sendiri mulai membangun Ruang Baca Komunitas (RBK) di Kota Banjar sejak bulan April lalu. Semangat awalnya adalah menjadikan Ruang Baca Komunitas sebagai  tempat untuk belajar, berbagi, dan bersinergi bersama dengan motto:  Reading, Sharing, Networking.

 

Dalam kaitan ini, kehadiran dan keberadaan Ruang Baca Komunitas tentu bukan untuk berkompetisi dengan perpustakaan yang sudah ada, tapi justru untuk saling mengkomplementasi dan saling bersinergi. Saya merasa bahwa kebutuhan untuk menciptakan reading society dan menumbuhkan semangat dan budaya literasi harus menjadi kesadaran bersama.Karena itu, Gerakan Literasi Bangsa (GLB) yang kini digagas dan dipromosikan Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu kita dukung bersama. Salah satunya, tentu saja dengan turut mendorong dan membangun budaya literasi di level komunitas terkecil yang salah satunya melalui promosi Ruang Baca Komunitas (RBK) di lingkungan terkecil. Menurut hemat saya, membangun perpustakaan komunitas dengan segala varian dan modelnya secara bottom-up tentu akan lebih strategis dalam mendorong reading habit dan reading society secara lebih massif. Kondisi ini pada gilirannya diharapkan dapat mendorong meningkatnya budaya literasi sebagai salah satu kunci pembuka paling utama bagi kemajuan dan keunggulan bangsa.*

 

Siti Maroah, S. Sos

Guru SMAN 1 Banjar, Pengelola Ruang Baca Komunitas

 



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : halim nawawi -  [halim.nawawi@gmail.com]  Tanggal : 28/06/2016
Setuju sekali dg ide kemendikbud tentang literasi,apalagi setelah baca artikel ibu tambah jelas.Yang pasti ini sesuai sekali dg ajaran agama Islam,bukankah perintah membaca itu adalah wahyu yang pertama kali turun ? Rasanya baru kita sadari kita lupa akan hal itu.

Pengirim : halim nawawi -  [halim.nawawi@gmail.com]  Tanggal : 28/06/2016
Setuju sekali dg ide kemendikbud tentang literasi,apalagi setelah baca artikel ibu tambah jelas.Yang pasti ini sesuai sekali dg ajaran agama Islam,bukankah perintah membaca itu adalah wahyu yang pertama kali turun ? Rasanya baru kita sadari kita lupa akan hal itu.


   Kembali ke Atas